Abu Bakar Ash-Shiddiq,ahli surga yang tiada keraguan di dalam hatinya

Di posting oleh Adhen pada 06:26 AM, 04-May-12

Di: As Sunnah

Assalamualaikum..

Apa kabar kawan?maaf ana lamaaaaa sekali update blog ini,dan maaf belum sempat main ke blog2 kawan. smile

0ce,tanpa berlama nian lagi inilah sahabat Rasulullah Saw no.1 ..

Abu Bakar (bahasa
Arab: ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﺍﻟﺼﺪﻳﻖ,
Abu Bakr ash-Shiddiq)
(lahir: 572 - wafat: 23
Agustus 634/21 Jumadil
Akhir 13 H) termasuk di
antara mereka yang
paling awal memeluk
Islam. Setelah Nabi
Muhammad wafat, Abu
Bakar menjadi khalifah
Islam yang pertama
pada tahun 632 hingga
tahun 634 M. Lahir
dengan nama Abdullah
bin Abi Quhafah, ia
adalah satu diantara
empat khalifah yang
diberi gelar Khulafaur
Rasyidin atau khalifah
yang diberi petunjuk. .
Abu Bakar Ash-Shidiq
Nama lengkapnya
adalah 'Abd Allah ibn
'Utsman bin Amir bi
Amru bin Ka'ab bin Sa'ad
bin Taim bin Murrah bin
Ka'ab bin Lu'ay bin Ghalib
bin Fihr al-Quraishi at-
Tamimi'. Bertemu
nasabnya dengan nabi
SAW pada kakeknya
Murrah bin Ka'ab bin
Lu'ai. Dan ibu dari abu
Bakar adalah Ummu al-
Khair salma binti Shakhr
bin Amir bin Ka'ab bin
Sa'ad bin Taim yang
berarti ayah dan ibunya
sama-sama dari kabilah
bani Taim.
Abu Bakar adalah ayah
dari Aisyah, istri Nabi
Muhammad. Nama yang
sebenarnya adalah
Abdul Ka'bah (artinya
'hamba Ka'bah'wink, yang
kemudian diubah oleh
Muhammad menjadi
Abdullah (artinya
'hamba Allah'wink.
Muhammad
memberinya gelar Ash-
Shiddiq (artinya 'yang
berkata benar'wink setelah
Abu Bakar
membenarkan
peristiwa Isra Miraj
yang diceritakan oleh
Muhammad kepada
para pengikutnya,
sehingga ia lebih dikenal
dengan nama "Abu
Bakar ash-Shiddiq".
Kehidupan sebelum
Muhammad
Abu Bakar dilahirkan di
kota Mekah dari
keturunan Bani Tamim
(Attamimi), sub-suku
bangsa Quraisy.
Beberapa sejarawan
Islam mencatat ia
adalah seorang
pedagang, hakim
dengan kedudukan
tinggi, seorang yang
terpelajar, serta
dipercaya sebagai orang
yang bisa menafsirkan
mimpi.
Era bersama Nabi
Ketika Muhammad
menikah dengan
Khadijah binti Khuwailid,
ia pindah dan hidup
bersama Abu Bakar.
Saat itu Muhammad
menjadi tetangga Abu
Bakar. Sama seperti
rumah Khadijah,
rumahnya juga
bertingkat dua dan
mewah[rujukan?]. Sejak
saat itu mereka
berkenalan satu sama
lainnya. Mereka berdua
berusia sama, pedagang
dan ahli berdagang.
Memeluk Islam
Dalam kitab
Hayatussahabah, bab
Dakwah Muhammad
kepada perorangan,
dituliskan bahwa Abu
bakar masuk Islam
setelah diajak oleh Nabi
[1] Abubakar kemudian
[dakwah|
mendakwahkan] ajaran
Islam kepada Utsman
bin Affan, Thalhah bin
Ubaidillah, Zubair bin
Awwam, Saad bin Abi
Waqas dan beberapa
tokoh penting dalam
Islam lainnya.
Istrinya Qutaylah binti
Abdul Uzza tidak
menerima Islam
sebagai agama
sehingga Abu Bakar
menceraikannya.
Istrinya yang lain, Um
Ruman, menjadi
Muslimah. Juga semua
anaknya kecuali 'Abd
Rahman bin Abu Bakar,
sehingga ia dan 'Abd
Rahman berpisah.
Penyiksaan oleh
Quraisy
Sebagaimana yang juga
dialami oleh para
pemeluk Islam pada
masa awal. Ia juga
mengalami penyiksaan
yang dilakukan oleh
penduduk Mekkah yang
mayoritas masih
memeluk agama nenek
moyang mereka.
Namun, penyiksaan
terparah dialami oleh
mereka yang berasal
dari golongan budak.
Sementara para
pemeluk non budak
biasanya masih
dilindungi oleh para
keluarga dan sahabat
mereka, para budak
disiksa sekehendak
tuannya. Hal ini
mendorong Abu Bakar
membebaskan para
budak tersebut dengan
membelinya dari
tuannya kemudian
memberinya
kemerdekaan.
Ketika peristiwa Hijrah,
saat Nabi Muhammad
SAW pindah ke Madinah
(622 M), Abu Bakar
adalah satu-satunya
orang yang
menemaninya. Abu
Bakar juga terikat
dengan Nabi Muhammad
secara kekeluargaan.
Anak perempuannya,
Aisyah menikah dengan
Nabi Muhammad
beberapa saat setelah
Hijrah.
Menjadi Khalifah
Selama masa sakit
Rasulullah SAW saat
menjelang ajalnya,
dikatakan bahwa Abu
Bakar ditunjuk untuk
menjadi imam salat
menggantikannya,
banyak yang
menganggap ini sebagai
indikasi bahwa Abu
Bakar akan
menggantikan
posisinya. Segera
setelah kematiannya,
dilakukan musyawarah
di kalangan para
pemuka kaum Anshar
dan Muhajirin di Madinah,
yang akhirnya
menghasilkan
penunjukan Abu Bakar
sebagai pemimpin baru
umat Islam atau
khalifah Islam pada
tahun ((632)) M.
Apa yang terjadi saat
musyawarah tersebut
menjadi sumber
perdebatan. Penunjukan
Abu Bakar sebagai
khalifah adalah subyek
kontroversial dan
menjadi sumber
perpecahan pertama
dalam Islam, dimana
umat Islam terpecah
menjadi kaum Sunni dan
Syi'ah. Di satu sisi kaum
Syi'ah percaya bahwa
seharusnya Ali bin Abi
Thalib (menantu nabi
Muhammad) yang
menjadi pemimpin dan
dipercayai ini adalah
keputusan Rasulullah
SAW sendiri sementara
kaum sunni
berpendapat bahwa
Rasulullah SAW menolak
untuk menunjuk
penggantinya. Kaum
sunni berargumen
bahwa Muhammad
mengedepankan
musyawarah untuk
penunjukan
pemimpin.sementara
muslim syi'ah
berpendapat bahwa
nabi dalam hal-hal
terkecil seperti sebelum
dan sesudah makan,
minum, tidur, dll, tidak
pernah meninggal
umatnya tanpa hidayah
dan bimbingan apalagi
masalah kepemimpinan
umat terahir. Banyak
hadits yang menjadi
rujukan dari kaum Sunni
maupun Syi'ah tentang
siapa khalifah
sepeninggal Rasulullah
saw, serta jumlah
pemimpin islam yang
dua belas. Terlepas dari
kontroversi dan
kebenaran pendapat
masing-masing kaum
tersebut, Ali sendiri
secara formal
menyatakan
kesetiaannya (berbai'at)
kepada Abu Bakar dan
dua khalifah setelahnya
(Umar bin Khattab dan
Usman bin Affan).
Kaum sunni
menggambarkan
pernyataan ini sebagai
pernyataan yang
antusias dan Ali menjadi
pendukung setia Abu
Bakar dan Umar.
Sementara kaum syi'ah
menggambarkan bahwa
Ali melakukan baiat
tersebut secara pro
forma, mengingat ia
berbaiat setelah
sepeninggal Fatimah
istrinya yang berbulan
bulan lamanya dan
setelah itu ia
menunjukkan protes
dengan menutup diri
dari kehidupan publik.
Perang Ridda
Segera setelah suksesi
Abu Bakar, beberapa
masalah yang
mengancam persatuan
dan stabilitas
komunitas dan negara
Islam saat itu muncul.
Beberapa suku Arab
yang berasal dari Hijaz
dan Nejed
membangkang kepada
khalifah baru dan
sistem yang ada.
Beberapa di antaranya
menolak membayar
zakat walaupun tidak
menolak agama Islam
secara utuh. Beberapa
yang lain kembali
memeluk agama dan
tradisi lamanya yakni
penyembahan berhala.
Suku-suku tersebut
mengklaim bahwa
hanya memiliki
komitmen dengan Nabi
Muhammad SAW dan
dengan kematiannya
komitmennya tidak
berlaku lagi.
Berdasarkan hal ini Abu
Bakar menyatakan
perang terhadap
mereka yang dikenal
dengan nama perang
Ridda. Dalam perang
Ridda peperangan
terbesar adalah
memerangi "Ibnu Habib
al-Hanafi" yang lebih
dikenal dengan nama
Musailamah Al-Kazab
(Musailamah si
pembohong), yang
mengklaim dirinya
sebagai nabi baru
menggantikan Nabi
Muhammad SAW.
Musailamah kemudian
dikalahkan pada
pertempuran Akraba
oleh Khalid bin Walid.
Ekspedisi ke utara
Setelah menstabilkan
keadaan internal dan
secara penuh
menguasai Arab, Abu
Bakar memerintahkan
para jenderal Islam
melawan kekaisaran
Bizantium dan
Kekaisaran Sassanid.
Khalid bin Walid
menaklukkan Irak
dengan mudah
sementara ekspedisi ke
Suriah juga meraih
sukses.
Qur'an
Abu Bakar juga
berperan dalam
pelestarian teks-teks
tertulis Al Qur'an.
Dikatakan bahwa
setelah kemenangan
yang sangat sulit saat
melawan Musailamah
dalam perang Ridda,
banyak penghafal Al
Qur'an yang ikut tewas
dalam pertempuran.
Umar lantas meminta
Abu Bakar untuk
mengumpulkan koleksi
dari Al Qur'an. oleh
sebuah tim yang
diketuai oleh sahabat
Zaid bin Tsabit, mulailah
dikumpulkan lembaran-
lembaran Al-quran dari
para penghafal Al-Quran
dan tulisan-tulisan yang
terdapat pada media
tulis seperti tulang, kulit
dan lain
sebagainya,setelah
lengkap penulisan ini
maka kemudian
disimpan oleh Abu
Bakar. setelah Abu
Bakar meninggal maka
disimpan oleh Umar bin
Khaththab dan
kemudian disimpan oleh
Hafsah, anak dari Umar
dan juga istri dari Nabi
Muhammad SAW.
Kemudian pada masa
pemerintahan Usman
bin Affan koleksi ini
menjadi dasar penulisan
teks al Qur'an yang
dikenal saat ini.
meninggalnya
khalifah abu bakar
as shidiq
Abu Bakar meninggal
pada tanggal 23
Agustus 634 di Madinah
karena sakit yang
dideritanya pada usia 61
tahun. Abu Bakar
dimakamkan di rumah
putrinya Aisyah di dekat
masjid Nabawi, di
samping makam Nabi
Muhammad.

Bagikan ke Facebook Bagikan ke Twitter

Komentar

7 tanggapan untuk "Abu Bakar Ash-Shiddiq,ahli surga yang tiada keraguan di dalam hatinya"

Anyoel KotoKers™ pada 07:33 AM, 04-May-12

Assalamualaikum.. Syukron artikelnya.. Mantap.. Lanjutkan smile

Ikhwan pada 09:05 AM, 04-May-12

q pngen kya dia

Ahmad Sidiq pada 07:22 AM, 05-May-12

mantap banget infonya, tetap semangat ya wink

The Rainy Day ® pada 04:34 PM, 06-May-12

ijiin nyimak mass

Aden™ pada 09:00 AM, 08-May-12

Waalaikumsalam...syukran smw'a,maaf y ana blm smpet mampir ^_^

Rio Putra pada 01:12 AM, 13-Jun-12

Kunjungan malam masta smile twisted trimakasih ilmunya masta

Dienislam™ pada 07:24 AM, 14-Jun-12

@Rio Putra,
thx kang... ^_^

Langganan komentar: [RSS] [Atom]

Komentar Baru

[Masuk]
Nama:

Komentar:
(Beberapa Tag BBCode diperbolehkan)

Kode Keamanan:
Aktifkan Gambar